Sabtu, 20 Oktober 2012


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dengan perubahan zaman yang semakin canggih dan modern, tidak memungkinkan para generasi bangsa dapat menjadi lebih baik, bahkan seiring perubahan zaman tersebut dapat mempengaruhi tingkah laku generasi bangsa ke arah yang negatif dan berujung pada kenakalan anak-anak. Namun, banyak dari generasi bangsa salah mengambil keputusan dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi sehingga tidak menutup kemungkinan perilaku negatif  itu terjadi, misalnya membolos di kalangan pelajar.
Membolos dapat diartikan tidak masuk sekolah tanpa keterangan, tidak masuk ke sekolah selama beberapa hari, dari rumah berangkat tapi tidak sampai ke sekolah, dan meninggalkan sekolah pada jam pelajaran.
Membolos sekolah mungkin merupakan salah satu budaya dalam pendidikan di bumi pertiwi ini. Sering kali kita mendapati anak-anak sekolah yang masih berseragam berkeliaran di luar sekolah pada jam sekolah. Jika zaman dahulu mungkin hanya sebatas anak laki-laki saja yang melakukan atau melestarikan kebudayaan ini namun akhir-akhir ini tidak jarang kita temukan anak perempuan yang membolos di jam sekolah sendiri dengan sesama teman atau membolos sendiri. Perilaku  demikian dapat di pengaruhi oleh lingkungan. Perhatian orang tua juga mempengaruhi tingkah laku anak (cara mendidik dan kasih sayang ).
Jawaban atas pertanyaan inilah yang melatar belakangi penulisan dalam mengadakan penelitian. Adapun hasilnya disajikan dalam bentuk karya tulis yang berjudul “ Kebiasaan Membolos Akibat Kurangnya Perhatian Orang Tua pada Seorang  Siswa Kelas IV SDN Grobogan 1 Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun”.

B.    Penegasan Istilah atau Judul
Untuk menghindari kesalah pahaman dalam memahami istilah dalam judul tersebut perlu dijelaskan sebagai berikut:
1.      Penegasan Konseptual
a.       Kebiasaan Membolos
1)      Kebiasaan
Kebiasaan adalah sesuatu yang sering dilakukan secara berulang-ulang.
2)      Membolos
Membolos adalah perilaku siswa yang tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak tepat.
Maka yang dimaksud dengan kebiasaan membolos adalah perilaku siswa yang tidak masuk sekolah dengan alasan tidak tepat yang diilakukan secara berulang-ulang.
b.      Perhatian Orang Tua
1)      Perhatian
Perhatian adalah tindakan yang mencerminkan kasih sayang.
2)      Orang Tua
Orang tua adalah ayah dan ibu kandung.
Maka yang dimaksud dengan perhatian orang tua adalah tindakan yang mencerminkan kasih sayang yang diberikan oleh ayah dan ibu kandung.
2.      Penegasan Operasional
a.       Kebiasaan membolos bahasanya orang secara otomatis di dalam lingkungan sekolah akan berdampak negatif terhadap diri sendiri dan orang lain.
b.      Perhatian Orang tua berperan penting dalam setiap perkembangan  anak.

C.    Pembatasan Masalah
Dari beberapa masalah yang timbul dalam karya tulis ini, maka untuk memudahkan pembahasannya maka penulis perlu mengadakan pembatasan dan memilih masalah yang utama dan merupakan inti yang langsung merupakan ruang lingkup dalam pembatasan karya tulis ini.
Adapun pembatasan dari berbagai masalah tersebut meliputi:
1.      Kebiasaan membolos yang dilakukan seorang siswi kelas IV SDN Grobogan 01 Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun.
2.      Perhatian orang tua terhadap seorang siswi kelas IV SDN Grobogan 01 Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun.

D.    Rumusan Masalah
Setelah permasalahan yang akan dibahas dalam karya tulis ini sudah jelas, maka karya tulis yang sesuai dengan pembatasan masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Apa penyebab seorang siswi kelas IV SDN Grobogan 01 Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun membolos sekolah?
2.    Bagaiman peranan orang tua dan guru sebagai pendidik dalam menangani perilaku membolos yang dilakukan oleh anak?
3.    Apa usaha orang tua dan guru sebagai pendidik dalam menyikapi kebiasaan membolos seorang siswa kelas IV SDN Grobogan 01 Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun membolos sekolah?

E.    Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan karya tulis ini adalah:
1.    Untuk mengetahui penyebab seorang siswi kelas IV SDN Grobogan 01 Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun membolos sekolah.
2.    Untuk mengetahui peranan orang tua dan guru sebagai pendidik dalam menangani perilaku membolos yang dilakukan oleh anak.
3.    Untuk mengetahui usaha orang tua dan guru sebagai pendidik dalam menyikapi kebiasaan membolos seorang siswa kelas IV SDN Grobogan 01 Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun membolos sekolah.


F.     Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian dalam karya tulis ini adalah:
1.      Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pendidikan atau menambah wawasan peneliti sehingga kita dapat mengetahui kondisi di lapangan yang sebenarnya.
  1. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan informasi para orang tua dalam mengawasi perkembangan terhadap anak-anaknya.
  1. Bagi Akademisi
Hasil penelitian ini diharapkan dipergunakan sebagai pengabdian masyarakat atau sekitar akademisi.

G. Sistematika Pembahasan
Untuk mencapai tujuan yang dikehendaki dalam hal ini maka pembahasannya disusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini dijabarkan beberapa hal sebagai berikut: latar belakang masalah, penegasan istilah dalam judul, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan pembahasan, kegunaan penelitian, dan sistematika pembahasan.

BAB II LANDASAN TEORI
Dalam bab ini terdiri dari: pengertian membolos, faktor penyebab siswa membolos, akibat yang ditimbulkan oleh siswa membolos, pengertian orang tua, bentuk perhatian orang tua, dan pengaruh perhatian orang tua terhadap anak
BAB III METODOLOGI PEMBAHASAN
Dalam bab ini pembahasan tentang: pola penelitian, populasi, sampling dan sampel penelitian, sumber data dan variabel penelitian, metode dan instrument pengumpulan data serta metode analisa data.
BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN
Bab ini menyajikan secara singkat tentang keadaan obyek, analisis data, dan penanganan masalah.
BAB V PENUTUP
Dalam bab ini terdapat kesimpulan dan saran-saran.









BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Kebiasaan Membolos
1.      Pengertian Membolos
Membolos dapat diartikan sebagai perilaku siswa yang tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak tepat. Atau bisa juga dikatakan ketidak hadiran tanpa alasan yang jelas. Membolos merupakan salah satu bentuk dari kenakalan siswa, yang jika tidak segera diselesaikan / dicari solusinya dapat menimbulkan dampak yang lebih parah.
2.      Faktor penyebab Siswa Membolos
a.       Faktor Keluarga
Mungkin kita pernah mendengar (atau mungkin sering) ada siswa yang tidak diperbolehkan masuk sekolah oleh orang tuanya. Untuk suatu alasan tertentu mungkin hal ini dianggap paling efisien untuk mengatasi krisis atau permasalahan dalam keluarganya. Orang tua tidak peduli pendidikan.
Selain itu sikap orang tua terhadap sekolah juga memberi pengaruh yang besar pada anak. Jika orang tua menganggap bahwa sekolah itu tidak penting dan hanya membuang-buang waktu saja, atau juga jika mereka menanamkan perasaan pada anak bahwa ia tidak akan berhasil, anak ini akan berkurang semangatnya untuk masuk sekolah. Biasanya sikap orang tua yang menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting karena mereka sendiri orang yang kurang berpendidikan. Akibatnya penghargaan terhadap pendidikan hanya dipandang sebelah mata.
b.      Rendah diri
Sering rasa kurang percaya diri menjadi penghambat segala aktifitas. Faktor utama penghalang kesuksesan ialah kurangnya rasa percaya diri. Ia mematikan kreatifitas siswa. Meskipun begitu banyak ide dan kecerdasan yang dimiliki siswa, tetapi jika tidak berani / merasa tidak mampu untuk melakukannya sama saja percuma.
Perasaan diri tidak mampu dan takut akan selalu gagal membuat siswa tidak percaya diri dengan segala yang dilakukannya. Ia tidak ingin malu, merasa tidak berharga, serta dicemooh sebagai akibat dari kegagalan tersebut.
c.       Perasaan Terkucilkan
Perasaan tersisihkan tentu tidak diinginkan semua orang. Tetapi kadang rasa itu muncul tanpa kita inginkan. Seringkali anak dibuat merasa bahwa ia tidak diinginkan atau diterima di kelasnya. Perasaan ini bisa berasal dari teman sekelas atau mungkin gurunya sendiri dengan sindiran atau ucapan.
Siswa yang ditolak oleh teman-teman sekelasnya, akan merasa lebih aman berada di rumah. Ada siswa yang tidak masuk sekolah karena takut oleh ancaman temannya. Ada juga yang diacuhkan oleh teman-temannya, ia tidak diajak bermain, atau mengobrol bersama.
d.        Sebab yang Berasal dari Sekolah
Sekolah merupakan tempat terjadinya proses belajar mengajar. Di sana tempat siswa-siswa belajar ilmu pengetahuan.
Belajar akan lebih berhasil bila bahan yang dipelajari menarik perhatian anak. Karena itu bahan harus dipilih yang sesuai dengan minat anak atau yang di dalamnya nampak dengan jelas adanya tujuan yang sesuai dengan tujuan anak melakukan aktivitas belajar.
Jadi suasana kelas sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Selain itu, tujuan pembelajaran yang jelas juga akan memudahkan siswa dalam pemahamannya. Sehingga siswa tidak akan bosan dan mudah mengikuti kegiatan pembelajaran
3.                Akibat yang Ditimbulkan Oleh Siswa yang Membolos
a.         Tidak naik kelas
b.         Dikeluarkan dari sekolah
c.         Nilai ulangan tidak sesuai harapan
d.        Ketinggalan pelajaran
e.         Gagal dalam ujian
f.          Prestasi belajar menurun
g.         Dapat mempengaruhi orang lain untuk membolos

B.     Perhatian Orang Tua
1.            Pengertian Perhatian Orang Tua
Perhatian adalah suatu kegiatan jiwa. Perhatian dapat didefinisikan sebagai proses pemusatan fase-fase unsur-unsur pengalaman dan mengabaikan yang lainnya (Wayan Ardhana, 1985 : 74). Selain itu perhatian juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan seseorang dalam hubungannya dengan pemilihan rangsangan yang berasal dari lingkungannya (Slameto, 2003 : 105).
Orang Tua adalah komponen yang terdiri dari ayah, dan ibu dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat. Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas rumah. Kadang-kadang anak lemah semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya, membantu sedapat mungkin kesulitan yang dihadapi anak di sekolah.
Jadi, perhatian orang tua adalah suatu bentuk sikap orang tua yang memantau setiap perkembangan anaknya. Apabila anak berbuat salah, orang tua menasehati dan memperingatkan agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif. Dan orang tua juga mendukung anaknya selama yang dilakukan anak positif.
2.                  Bentuk Perhatian Orang Tua
Beberapa contoh bentuk perhatian yang dapat dilakukan orang tua,sebagai berikut:
a.       Mengajak anak-anak untuk sholat berjamaah, dilanjutkan mengaji.
b.      Mendekapnya ketika dia menangis.
c.       Meluangkan waktu di sela-sela kesibukan kerja.
Waktu yang sedikit asal berkualitas sangat berarti bagi anak untuk menikmati kebersamaan dengan orang tuanya. Materi yang berlimpah tidak cukup untuk anak. Anda memberi materi yang cukup untuk anak, semua permintaannya Anda penuhi, anak tinggal dengan pengasuh, Anda sibuk bekerja, tentu anak anak merasa kesepian, orang tuanya sibuk tanpa pernah meluangkan sedikit saja waktunya untuk sekedar mendengarkan ceritanya. Atau bahkan mungkin malah anak akan merasa asing dengan orang tua sendiri. Artinya, materi berlimpah tidak bisa menggantikan cinta, kasih sayang dan perhatian Anda kepada anak-anak.
d.      Rangkul dan peluk anak ketika anak memerlukan perlindungan.
e.       Ketika si kecil berbicara, tatap matanya, dengar ceritanya dengan baik sehingga anak akan tumbuh rasa percaya diri. Juga ketulusan Anda sangat dirasakan si kecil.
f.       Beri kecupan menjelang si kecil tidur, bacakan dongeng untuknya.
g.      Kita menyayangi anak, bukan berarti semua permintaannya kita kabulkan. Kita tetap harus bisa menyeleksi mana yang diperlukan mana dan yang tidak, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak.
h.      Sesekali beri kejutan untuk si kecil. Misalnya, saat ia mengerjakan tugas yang Anda berikan dengan baik, beri kado kecil untuknya. Memberi penjelasan sesuai usianya ketika si kecil bertanya. Ketika orang tua sedang capek/lelah, kadang yang ada bukannya menjawab dan menjelaskan kepada si kecil tapi justru marah yang didapat. Juga untuk anak yang aktif bertanya, kadang orang tua dibuat pusing, bingung harus menjawab apa, bisa juga orang tua sampai kehabisan kata-kata.
Kewajiban orang tua adalah terlibat dalam pengasuhan positif dan pemandu anak menjadi manusia yang kompeten. Kewajiban anak adalah merespon dengan sesuai terhadap inisiatif dari orang tua dan mempertahankan hubungan positif dengan tua. Karena itu, kehangatan dan tanggung jawab dalam kewajiban mutual dari hubungan orang tua dan anak adalah dasar penting terhadap pertumbuhan moral positif pada anak.
Dalam kualitas hubungan, kelekatan (attachment) yang aman (secure) memainkan peranan yang penting dalam perkembangan moral anak. Kelekatan yang aman dapat menempatkan anak dal jalur positif untuk menginternalisasi tuajuan sosialisasi dari orang tua dan jika nilai-nilai keluarga.
Orang tua dapat mendisiplinkan anak melalui penarikan kasih sayang, penegasan kekuasaan, atau induksi.
·         Penarikan kasih sayang adalah teknik disiplin dimana orang tua menahan atensi atau kasih sayang terhadap anak.
·         Penegasan kekuasaan. Teknik disiplin dimana orang tua mencoba untuk mengambil alih kontrol dari si anak atau mengambil alih sumber daya yang dimiliki anak.
Induksi Teknik disiplin di mana orang tua menggunakan penalaran dan penjelasan tentang konsekuensi perilaku anak terhadap orang lain (Hurlock, 1978: 133).
3.      Pengaruh Perhatian Orang Tua Terhadap Anak
Sikap orang tua mempengaruhi cara mereka memperlakukan anak, dan perlakuan mereka terhadap anak sebaliknya mempengaruhi sikap anak terhadap mereka dan perilaku mereka. Pada dasarnya hubungan orang tua dengan  anak tergantung pada sikap orang tua. Jika sikap orang tua menguntungkan, hubungan orang tua dan anak akan jauh lebih baik daripada bila sikap orang tua tidak positif. (Santrock, 2007: 202).
Perhatian orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak, di mana orang tua merupakan figur bagi anak. Dengan perhatian orang  tua diharapkan anak  menjadi lebih  baik. Tetapi keluarga yang mengalami perpisahan atau perceraian akan berdampak pada anak-anaknya. Pengalaman perceraian merupakan stres bagi seluruh anggota keluarga, dan perilaku anak-anak. Jika kesatuan keluarga pecah, akibatnya anak akan selalu menderita kekurangan dukungan dalam perkembangan, pertumbuhan yang sehat, dan pengalaman perasaan kehilangan yang dalam. Reaksi anak yang ditunjukkan terhadap perceraian, yaitu:
a.         Kesedihan karena kehilangan anggota keluarga
Waller-stein (1993) merupakan bahwa perpisahan dan perceraian orang tua secara emosional dapat dibandingkan dengan kematian orang tua. Anak tidak hanya sedih karena kehilangan kontak sehari-hari dengan salah satu orang tua dan berkurangnya kontak dengan orang-orang lain tetapi juga sedih kehilangan rasa aman dan nyaman dengan keluarga yang utuh atau lengkap.
b.         Ketakutan akan ditolak, dibuang, dan dalam keadaan tidak berdaya
Perasaan ditolak selalu digabungkan dengan menyalahkan diri sendiri yang kemudian diikuti oleh perceraian. Anak-anak menginterprestasikan bahwa salah satu orang tua meninggalkannya karena sebagai penolakan mereka terhadapnya, bukan karena hubungan perkawinan yang retak. Perasaan sedih karena kunjungan dari salah satu orang tua mungkin sesudah terjadi perceraian.
c.         Marah
Anak menahan marah dalam proses perceraian orang tua mereka yang hanya memikirkan sendiri dan meletakkan anak-anak di tengah konflik mereka.
d.        Sakit hati dan sangat kesepian
Anak-anak pada umumnya sakit hati pada saat tidak diberitahu tentang perceraian yang segera terjadi dan tidak diberi kesempatan untuk mendiskusikannya. Kekurangan komunikasi ini sering diterjemahkan ke dalam kesepian, karena kehilangan dukungan dari keluarga, keluarga yang lebih besar dan teman-teman sebaya.
e.         Bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri
Anak-anak kadang-kadang percaya bahwa mereka tidak dilahirkan atau jika mereka menjadi anak yang lebih baik, orang tua mereka tidak akan meninggalkan mereka. Anak-anak juga menyalahkan orang tua mereka; mereka menyalahkan orang tua yang meninggalkan mereka dan memaksa mereka keluar dari rumah.
f.          Kecemasan dan pengkhianatan
Karena anak-anak takut kehidupan mereka selanjutnya akan diganggu oleh perceraian orang tua mereka, anak-anak mungkin merasa tidak aman tentang masa depan, dan tentang hubungannya dengan orang lain.












BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat     : SDN Grobogan 01 ( Jiwan, Madiun)
2.      Waktu      :
-  penelitian I pada hari Sabtu, tanggal 11 Juni 2011 tepatnya pukul 08.30 – 10.00
- penelitian ke II pada hari Selasa, tanggal 14 Juni 2011 tepatnya pukul 07.30 – 09.00

B.     Pola Penelitian
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, penulis menggunakan pola penelitian deskripsi yaitu “pendekatan dilakukan dengan mengambil dan mengemukakan gambaran secara sistematis dan akurat sesuai dengan fakta yang ada”.
Penelitian deskripsi ini bertujuan untuk menjelaskan dan menggambarkan keadaan di sekitar populasi. Dalam hal ini peneliti ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan pengaruh kurangnya perhatian orangtua terhadap kebiasaan membolos seorang siswi kelas IV SDN Grobogan 01 Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun.


C.    Populasi dan Sampel Penelitian
1.      Populasi
Populasi adalah seluruh individu yang ada di seluruh wilayah penelitian. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa – siswi kelas IV SDN Grobogan 01 Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun yang berjumlah 24 siswa.
2.      Sampling
Sampling adalah tehnik atau metode pengambilan sampel dari populasi. Dalam hal ini penulis mengambil beberapa siswa, khususnya siswa kelas IV SDN Grobogan 01 Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun.
3.      Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian populasi yang dijadikan objek dalam penelitian. Pengambilan sampel digunakan peneliti karena keterbatasan biaya, waktu, tempat dan kemampuan yang ada tidak memungkinkan peneliti untuk meneliti seluruh populasi yang ada. Populasi keseluruhan siswa-siswi kelas IV SDN Grobogan 01 adalah 24 siswa. Maka berdasarkan pertimbangan yang matang, peneliti mengambil 1 siswa sebagai sampelnya dan dianggap mewakili jumlah seluruh populasi yang ada. Pengambilan sampel dalam penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi dan dapat mengambil sebuah kesimpulan terhadap penelitian yang dilakukan. Adapun Sampel dalam penelitian ini adalah seorang siswi kelas IV bernama Reka Dwi Arista.

D.    Metode dan Instrumen Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data sering disebut juga dengan teknik pengumpulan data, dalam penelitian ini digunakan istilah metode yang berarti cara memperoleh atau mengumpulkan data mengenai variabel-variabel dalam penelitian. Adapun metode dan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1.      Metode Observasi
Metode observasi adalah suatu usaha untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstandar. Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang objek penelitian yang berkenaan dengan siswi kelas IV SDN Grobogan 01 yang mempunyai kebiasaan membolos.
2.      Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan usaha untuk mendapatkan informasi mengenai hal-hal lain atau variabel yang berupa catatan, buku, surat kabar, majalah agenda dan sebagainya.
Dalam metode ini, peneliti menggunakan pengumpulan data-data yang ada dalam arsip SDN Grobogan 01. Sedangkan instrumen yang digunakan sebagai alat bantu pengumpulan data adalah pedoman dokumentasi.
3.      Metode Wawancara (Interview)
Metode wawancara adalah cara pengumpulan data atau informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk memperoleh jawaban secara lisan pula dari sumber informasi.
4.      Metode Library Research
Dalam penelitian kepustakaan penulis mengumpulkan data-data dengan jalan membaca buku-buku yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya sebagai sumber informasi tentang berbagai pendapat para ahli dalam kaitannya dengan pembahasan penulisan ini.
Dalam menggunakan bahasa kepustakaan sebagai penunjang dalam penelitian, terutama untuk penulisan karya ilmiah ini. Maka penulis menggunakan pedoman record yaitu mencatat informasi penting sebagai berikut:
a.       Mencatat keterangan tentang sumber yang meliputi:
1)   Nama pengarang, jika nama pengarang tidak tercantum dalam buku yang dipakai maka mencantumkan nama badan yang menerbitkan buku tersebut.
2)   Tempat penerbitan, nama penerbit dan tahun penerbitan.
3)   Bila buku terdiri dari berbagai jilid, maka dicantumkan nomor serinya.
b.      Menulis sesuai dengan aslinya atau meringkas informasi yang dianggap penting, yang akan dijadikan bahan penunjang landasan teori, dan nomor halaman dicantumkan dimana informasi itu diperoleh.
c.       Menyusun informasi yang diperoleh dari sesuatu buku dengan urutan halaman dengan urutan dari nomor kecil ke nomor besar.

E.     Sumber Data dan Variabel Penelitian
1.    Sumber Data
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian “ Subyek dari mana data di mana diperoleh”. Sesuai dengan metode pengumpulan data sebagai mana tersebut di atas maka sumber datanya adalah:
a.    Apabila peneliti menggunakan metode dokumentasi maka sumber datanya adalah dokumen yaitu dokumen yang ada di SDN Grobogan 01 Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun.
b.   Bila peneliti menggunakan observasi, maka sumber datanya adalah semua data-data yang ada di SDN Grobogan 01 Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun.
c.    Bila peneliti menggunakan library research maka sumber datanya adalah buku-buku yang relevan.
2.    Variabel Penelitian
Yang dimaksud dengan variabel penelitian adalah “Objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”.
Adapun yang menjadi titik perhatian atau yang menjadi obyek penelitian ini ada satu variabel yaitu seorang siswi kelas IV SDN Grobogan 01 yang mempunyai kebiasaan membolos karena kurang mendapat perhatian dari orang tuanya.
F.     Metode Analisa Data
Setelah data terkumpul dari hasil penelitian, maka peneliti menganalisis metode yang dipakai adalah sebagai berikut:
1.      Metode Induktif
Metode induktif yaitu suatu penelitian dengan jalan menguraikan sekecil-kecilnya informasi kemudian ditarik kesimpulan secara umum.
2.      Metode Deduktif
Metode deduktif yaitu suatu penelitian dengan cara menguraikan data-data dengan masalah-masalah umum kemudian ditarik kesimpulan secara khusus.
3.      Metode Komperatif
Metode komperatif adalah metode pengolahan data dengan jalan mencari atau membandingkan titik temu perbedaan dan persamaan antara pengertian satu dengan pengertian satu dengan yang lainnya.
 








BAB IV
LAPORAN HASIL PENELITIAN

A.    Analisa Data
Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan dengan menggunakan metode tanya jawab (wawancara) kepada berbagai sumber yang berhubungan dengan objek yang kami teliti, maka kami dapat menganalisis berbagai keterangan dari sumber yang kami dapatkan diantaranya:
·         Keterangan dari Wali Kelas IV
Wali kelas Reka bernama Ibu Suprapti, S. Pd. Menurut penuturan beliau, pada saat Reka masih duduk di kelas 2. Ia ditinggal oleh ibunya bekerja di Luar Negeri. Di rumah, Reka tinggal bersama dengan Ayah, kakak perempuan dan neneknya. Tak selang beberapa lama, ayah Reka menikah lagi dengan seorang perempuan yang berasal dari Trenggalek dan ayahnya memutuskan untuk tinggal di Trenggalek dengan istri barunya serta membiarkan anaknya tetap tinggal bersama ibu mertuanya. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang anak perempuan, yang tentunya menjadi adik tiri Reka. Reka mempunyai kebiasaan membolos mulai kelas IV ini. Dia membolos karena diajak oleh ayahnya main ke Trenggalek. Hal tersebut dilakukan ayah Reka selama beberapa kali. Dan jika Reka menolak ajakan tersebut, ia akan dimarahi oleh ayahnya. Akhirnya Rekapun menuruti kemauan ayahnya karena takut akan dimarahi ayahnya. Selain itu, ia membolos kadang juga karena bermain. Setelah  genap 2 tahun berada di luar negri, ibunya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Sekarang ibunya bekerja sebagai buruh tani untuk menafkahi kedua anaknya dan ibunya. Mengetahui perilaku Reka yang demikian, akhirnya Bu Suprapti memutuskan untuk memanggil orang tuanya ke sekolah. Tetapi ibu Reka tidak mau datng ke sekolah. Akhirnya Bu Suprapti mendatngai rumah Reka dan menemui ibunya. Saat ditanya mengapa Reka sering membolos, ibunya malah tidak mengetahui sama sekili karena saat berangkat sekolah Reka memakai seragam. Dalam hal ini terlihat bahwa ibunya tidak memperhatikan Reka, sampai anaknya membolos ibunya tidak tahu. Bu Suprapti sudah menyarankan kepada ibunya agar lebih memeberikan perhatian yang intensif kepada Reka agar Reka tidak membolos lagi. Tetapi tetap saja, ibunya tidak memperdulikan Reka karena sibuk bekerja untuk menafkahi kedua anaknya dan ibunya. Di dalam hal pelajaran, Reka juga tidak terlalu pandai. Pada semester II ini, Ia menduduki peringkat ± 20 dari 24 siswa di kelasnya. Jika ada PR dia mau mengerjakan tetapi hanya asal-asalan saja. Reka termasuk anak yang pendiam. Di kelasnya, Ia tidak pernah mengganggu teman-temannya dan memperhatikan apabila guru sedang menjelaskan pelajaran.
·         Keterangan dari Reka
Saat kami bertanya tentang jumlah saudara kepada Reka, ia adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Namun salah satu kakaknya meninggal dunia. Kemudian kami menanyakan mengapa ia tidak masuk sekolah, ia menjawab karena sakit. Di rumah, ia jarang belajar. Ibunya tidak pernah mengingatkannya untuk belajar. Hanya kadang-kadang kakaknya perhatian mengingatkan Reka untuk belajar. Dan jika Reka mengalami kesulitan kakaknyapun mau membantunya mengerjakan PR. Dalam pelajaran, ia menyukai mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Dan ia tidak menyukai mata pelajaran IPS. Nilai yang paling menonjol yaitu pelajaran IPA. Reka juga mempunyai hobi bermain kata-kata berbahasa.
·         Keterangan dari Teman Dekat Reka
Ketika kami menanyakan kepada salah satu teman dekatnya yang bernama Novita dan Nesti, mereka mengatakan bahwa Reka anak yang baik dan dia senang bermain dengan Reka. Ketika Reka tidak masuk sekolah, temannya bilang kalau Reka sakit. Namun setelah Novita datang kerumahnya Reka tidak ada dirumah. Biasanya Reka tidak masuk selama 1 minggu.
Jadi, penyebab Reka membolos diantaranya:
1.      Diajak oleh ayah bermain ke rumahnya di Trenggalek.
2.      Takut dimarahi oleh ayah jika tidak menuruti ajakan ayahnya.
3.      Terpengaruh dari lingkungan.
4.      Kurang perhatian dari keluarganya, karena orang tuanya bercerai dan ayahnya mempunyai keluarga baru.
Sedangkan akibat yang ditimbulkan dari kebiasaan membolosnya, yaitu:
1.      Hampir tidak naik kelas, tetapi karena dia sudah menyadari dan takut akan itu maka dia tidak membolos lagi.
2.      Menduduki peringkat ± 20 dari 24 siswa di kelasnya.
3.      Ketinggalan dalam pelajaran.
4.      Prestasi belajar menurun

B.     Penanganan dan Penyikapan Masalah
Penanganan kasus adalah keseluruhan perhatian dan tindakan seseorang terhadap kasus (yang dialami oleh seseorang) yang dihadapkan kepadanya sejak awal sampai dengan akhirnya perhatian atau tindakan tersebut (Prayitno, 1999: 76-77).
Beberapa cara yang ditempuh untuk menangani kasus Reka, antara lain:
1.         Orang tua harus lebih hangat dan mendukung, dari pada menghukum,
2.         Adanya pengawasan dari orang tua secara intensif dan tidak mengekang,
3.         Memberikan kesempatan kepada anak untuk mencurahkan masalah yang terpendam dan membebani dirinya,
4.         Melibatkan anak dalam pengambilan keputusan keluarga dan dalam proses pemikiran mengenai keputusan moral
5.         Ingat-ingat kerugian yang akan di terima apabila tidak masuk sekolah meskipun hanya sehari.
6.         Perlunya perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.
       Kasih sayang dan perhatian dari orang tua mutlak diperlukan anak dalam masa perkembangannya. Dengan pemberian itu dari orang tua, anak akan merasa nyaman sehingga orang tua akan lebih mudah untuk mengarahkan anaknya agar tidak terpengaruh hal-hal yang negatif.
7.         Peran dan Fungsi Bimbingan Konseling (BK) dalam Mengatasi Siswa yang Suka Membolos  .
Kewajiban sekolah, selain mengajar (dalam arti hanya mengisi otak anak-anak dengan berbagai ilmu pengetahuan), juga berusaha membentuk pribadi anak menjadi manusia yang berwatak baik.
Mengajar tidak sekedar transfer pengetahuan, tetapi lebih kepada usaha untuk membentuk pribadi santun dan mampu berdiri sendiri. Sehingga jika terjadi suatu permasalahan pada siswa, pendidik / pihak sekolah juga turut memikirkannya, berusaha mencarikan jalan keluar.   
Dalam menghadapi anak tersebut peran BK sangatlah penting. Sebagai sarana untuk mencari solusi, fungsi BK cukup efisien. Melalui pendekatan personal, harapannya siswa dapat lebih terbuka dengan pemasalahannya, sehingga pembimbing dapat memahami dan mendapat gambaran secara jelas apa yang sedang dihadapi siswa.   
Menjadi model tehadap penalaran dan perilaku moral, dan menyediakan kesempatan bagi anak untuk juga melakukan hal tersebut
8.         Menyediakan inforamasi mengenai perilaku yang diharapkan beserta alasannya
9.         Membangun moralitas internal alih – alih eksternal
Penyikapan kasus adalah penyikapan secara menyeluruh yang mencakup segenap aspek permasalahan yang ada di dalam kasus dan segenap langkah ataupun pentahapan pada sepanjang proses penanganan kasus secara menyeluruh dari awal sampai akhir (Prayitno, 1999).
            Beberapa cara untuk menyikapi kasus yang dilakukan Reka, antara lain:
a.       Selalu yakin bahwa masalah  Reka dapat terselesaikan
Dengan mempunyai kepercayaan diri yang merupakan kunci dalam menghadapi setiap masalah, maka akan membuat kita yakin untuk dapat membantu menyelesaikan masalah Reka.
b.      Selalu sabar dan tidak berputus asa dalam mengajaknya kepada kebaikan
Bersikap sabar sangat dibutuhkan untuk menghadapi perilaku Reka yang sudah melebihi batas kewajaran. Jangan sampai berputus asa untuk selalu menasehatinya dan mengajaknya kepada kebaikan agar dia tidak mengulangi perbiuatannya yang menyimpang itu.
c.       Meminta kerja sama dari pihak orang tua, sekolah, dan masyarakat
Dengan adanya kerjasama dari berbagai pihak akan mempermudah untuk menangani tingkah kenakalannya dan dapan membuat ia cepat sadar akan perbuatannya yang salah dan kembali ke jalan yang benar.
d.      Menyuruh orang yang disegannya untuk turut aktif membimbingnya
Karena Reka susah untuk dinasehati, mungkin ia akan cenderung lebih patuh terhadap nasehat orang yang diseganinya.
e.       Melaporkan perbuatannya kepada orang tuanya setelah ada bukti yang jelas
Karena orang tuanya tidak tahu dan tidak percaya jika diberitahu bahwa Reka sudah sering mencuri, maka jika Reka sudah ketangkap basah telah melakukan pencurian segera dari pehak saksi melapor kepada orang tuanya dan diperlihatkan kepadanya tingkah anaknya itu. Sehingga jika sudah mengetahui hal itu, orang tua dapat segera membantu menanganinya.









BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Kesimpulan Teroritis
a.       Membolos dapat diartikan sebagai perilaku siswa yang tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak tepat. Membolos dapat disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya faktor keluarga, rendah diri, perasaan terkucilkan, sebab dari lingkungan sekolah. Membolos juga memberikan dampak negatif yang bermacam – macam.
b.      Perhatian orang tua adalah suatu bentuk sikap orang tua yang memantau setiap perkembangan anaknya. Perhatian orang tua sangat berpengaruh terhadap sikap anak. Macam – macam bentuk perhatian orang tua juga menimbulkan respon yang bermacam –macam bagi anak.
2.      Kesimpulan Empiris
a.       Sebab Reka membolos
Diajak oleh ayah bermain ke rumahnya di Trenggalek. Takut dimarahi oleh ayah jika tidak menuruti ajakan ayahnya. Terpengaruh dari lingkungan. Kurang perhatian dari keluarganya, karena orang tuanya bercerai dan ayahnya mempunyai keluarga baru.
b.      Akibat Reka membolos
Hampir tidak naik kelas, tetapi karena dia sudah menyadari dan takut akan itu maka dia tidak membolos lagi. Menduduki peringkat ± 20 dari 24 siswa di kelasnya. Ketinggalan dalam pelajaran. Prestasi belajar menurun.
c.       Penanganan kasus Reka
Penanganan dalam kasus ini cukup sulit. Sebab membutuhkan kerjasama antara pihak sekolah dengan orang tua Reka serta teman sebaya Reka.

B.     Saran
1.      Untuk Orang Tua
Hendaknya orang tua lebih bisa memberikan perhatian dan kasih sayangnya terhadap Reka. Walaupun orang tua sudah bercerai, tetapi dalam mengasuh anak sebaiknya bekerja sama agar anak tumbuh dan berkembang dengan baik.
2.      Untuk Pihak Sekolah
Dalam hal ini, sekolah sangat berperan penting. Sebab selain memberikan pengetahuan dalam pembelajaran, sekolah juga memberikan pengaruh anak dalam kegiatan di luar rumah. Memberikan kegiatan positif dalam pembelajaran juga dapat menghilangkan stres pada siswa.
3.      Untuk Teman Sebaya
Menjauhi teman yang memiliki masalah dalam rumah itu sangat tidak baik. Teman yang baik adalah teman yang di kala temannya memiliki masalah ada untuk membantunya. Walaupun tidak secara langsung membantu, tetapi seorang teman bisa menghibur temannya untuk sejenak melupakan masalahnya.


















DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan. 1985. Pokok-Pokok Ilmu Jiwa Umum. Surabaya: Usaha Nasional.

Esti, Sri. 2005. Konseling dan Terapi dengan Anak dan Orang Tua. Jakarta: Gramedia.
Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta:Erlangga.

Latif, Abdul. 2007. Pendidikan Nilai Berbasis Nilai Kemasyarakatan. Bandung: Refika Aditama.

Prayitno, dkk.1994.Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Rifai, Moch. 2010. Peranan Orang Tua sebagai Pendidik dan Usahanya dalam Keluarga Muslim di Desa Gejagan Kecamatan Loceret kabupaten Ngajuk. Madiun: IKIP PGRI Madiun.

Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

http://www.Mengatasi siswa membolos melalui bimbingan konseling_bolandcapzlock.htm. 15/07/2011_11.00 am.

http://www.Scribd.com/doc/57572071/makalah-membolos-di-kalangan-remaja. Source:facebook. 20/07/2011. 09.30 am.

http://www.tugaskuliah.info/2009/12/pengaruh-perhatian-orang-tua-dan-minat.html






0 komentar: